Sunnah Yang Nyunnah

Kalau kita ditanya apa arti *Sunnah*, pasti jawabannya _"kalau di kerjakan dpt pahala dan kalau tdk di kerjakan tdk apa²."_

Pdhl kalau kita mengerjakan _Shalat Sunnah Rawatib 12 rakaat_, Allah menjanjikan rumah di Surga. Bayangkan kalau kita mengerjakannya setiap hari..
_Yakin nih enggak apa² di tinggal?_

Kalau kita _Shalat Sunnah Fajar_, pahalanya lbh baik dari dunia dan seisinya..
_Yakin nih enggak apa² ditinggal?_

Seseorg yg _Shalat Tahajjud_, Allah mdhkan urusannya, doa²nya terkabul dan Allah angkat derajatnya ke tempat yg terpuji. Dijamin masuk Surga dan selamat dari adzab neraka dan dicatat sbg org yg berdzikir kpd Allah.
_Yakin nih enggak apa² ditinggal?_

Kalau kita _Shalat Dhuha 2 rakaat_, itu sdh mencukupi sedekah 360 persendian dan Allah jamin rezekinya. _Yakin nih enggak apa² ditinggal?_

Seseorg yg _Shalat ke Masjid_, tiap langkahnya diangkat satu derajat dan dihapuskan satu dosa sampai ia masuk Masjid. Apabila ia di dlm Masjid, akan dianggap mengerjakan Shalat selama menunggu hingga Shalat dilaksanakan, dan Malaikat terus mendoakannya.
_Yakin nih enggak apa² ditinggal?_

Saudaraku yg dirahmati Allah SWT

Utk urusan Sunnah, seharusnya mulai saat ini di mindset bkn lagi _"kalau di kerjakan dpt pahala, dan kalau tdk di kerjakan tdk apa²"_, tapi diganti menjadi _"kalau di kerjakan akan *"DAPAT UNTUNG BESAR"*, dan kalau tdk di kerjakan akan *"RUGI BESAR"*_.

Kata² _*"ah,.. itu cuma Sunnah"*_ adalah bisikan dari SETAN yang terus dihembuskan agar kita tidak melaksanakan amalan² tsb.
Saat inilah waktunya kita ber lomba² untuk menjadi orang yang bertaqwa, selagi kita masih hidup, karena *_"orang yang beriman belum tentu nilai taqwanya tinggi akan tetapi orang yang bertaqwa inshaa Alloh pasti dia imannya kuat"_*

Jangan lupa,  *KEMATIAN* terus bergerak mendekati kita dengan kecepatan 60 detik/menit tanpa jeda sedikitpun.
Kecepatan kita kembali kepada Allah SWT 3600 detik / jam,  sesuai dgn firman-Nya :

اِقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِيْ غَفْلَةٍ  مُّعْرِضُوْنَ

*iqtaroba lin-naasi hisaabuhum wa hum fii ghoflatim mu'ridhuun*

"Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai (dengan dunia), berpaling (dari akhirat)."
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 1)

Ya Allah ya rabb jauhkanlah kami dari kelalaian dan jagalah kami agar tidak berpaling dari-Mu. Aamiin

Mari kita bertafakur
Ya Allah SWT berilah kami keberkahan Aamiin.
Mari kita saling mengingatkan dlm hal kebaikan.

#Ingatkan Diri Sendiri
#Ingatkan keluarga
#Ingatkan sahabat.

Masuk Surga Sekeluarga

✨✨🍃🌺🍃✨✨
*CARA MASUK SURGA SEKELUARGA*
✨✨✨✨✨✨✨
*Oleh: Ustadz Bachtiar Nasir*

*1. Coba suatu hari ingatkan seluruh anggota keluarga begini;*
*"AYO , KITA KERJASAMA AGAR MASUK SURGA "*

*2.* *BAGAIMANA CARANYA?*
*Lihat Qs.* *Ath-Thur 21-27.*
"Para penghuni surga membocorkan rahasianya bagaimana cara masuk surga sekeluarga. Mau tau?"

*3. Ceritanya penghuni surga saling bercengkerama berhadap-hadapan*, masing2 bertanya jawab bagaimana keluarga kalian dulu, *KOK BISA MASUK SURGA?*

*4. JAWABANNYA SERAGAM :*
"Kami bisa masuk surga karena dulu di dunia, di keluarga kami *SALING MENGINGATKAN* satu sama lain tentang siksa pedih neraka".

*5. Karenanya VISI RUMAH TANGGA* orang beriman adalah:
"Peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa neraka".
(Qs.At Tahrim; 6).

*6. RUMAHKU SURGAKU*,
akan terjadi jika masing2 anggota keluarga memelihara dirinya dan mengingatkan anggota keluarga lainnya dari siksa neraka.

*7. SIAPA YG TAK SEDIH*
jika ada salah seorang anggota keluarga ( Bapak , ibu, kakak atau adik) terjerumus ke lingkungan siksa neraka?

*8. Setiap anggota KELUARGA PASTI SANGAT SEDIH*  jika bahtera keluarga pecah dan karam akibat terpaan gelombang kehidupan dunia yang mematikan.

*9. Agar masuk surga sekeluarga*, ingatkan anggota keluarga kita yang sedang khilaf berbuat dosa atau lalaikan perintah Allah, *JANGAN DIBIARKAN.*

*10. JANGAN KECEWA* kalau peringatan kita diabaikan, atau malah dilecehkan, karena dakwah di tengah keluarga kadang lebih berat.
*TERUSLAH MENGAJAK* keluarga berjalan sesuai Al-Quran dan hadist.
*JANGAN LUPA*  doakan agar terbuka hati dan pikiran

*11. Nabi Nuh as* tak pernah bosan mengingatkan anaknya yg tersesat, Nuh as terus mendoakannya sampai akhirnya *ALLAH TENGGELAMKAN* Kan'an.

*12. Nabi Luth as* tak pernah berhenti memperingatkan istrinya yang membangkang, sampai akhirnya Allah *BINASAKAN ISTERINYA* bersama kaum sodom. (Qs.al- Hijr : 61-66)

*13. Asiah binti Muzahim*, tertatih-tatih peringatkan suaminya Fir'aun, konsisten mendidik Masyithah & Musa as, akhirnya *ASIAH YG DIBUNUH Fir'aun.*

*14. Habil tak pernah takut mengingatkan dan menasehati kakaknya Qabil*, *RASA IRI DENGKI*  berkecamuk sampai akhirnya Habil dibunuh Qabil.

*15. Agar bisa MASUK SURGA SEKELUARGA* perlu perjuangan dan pengorbanan yang besar, selain itu kesabaran dan konsistensi juga harus dilakukan.

*16. INGATKAN SUAMI* agar bekerja ditempat yang halal, jangan bawa pulang penghasilan yg haram, krn akan jadi bahan bakar neraka rumah tangga.

*17. INGATKAN ISTERI* agar memperhatikan pola konsumsi halal untuk keluarga, anak-anak akan susah diajak taat dan ibadah jika mengonsumsi yang haram.
(Qs.al- Maidah : 88, al- Baqarah : 168)

*18. INGATKAN ANAK2* bahwa bahan bakar neraka adalah batu dan manusia, jangan sampai salah seorang dari kita jadi bahan bakarnya neraka. (Qs.At- Tahrim : 6)

*19. INGATKAN TERUS* ttg syarat sah menjadi seorang muslim (rukun islam) : dua kalimat syahadat, sholat, zakat, puasa, pergi haji jika mampu. (Qs.al-Baqarah : 110, 177-178)

*20. CERITAKAN* bahwa penjaga neraka adalah para malaikat perkasa yang kuat dan kasar, mereka tak pernah khianati Allah & pasti laksanakan perintah-Nya. (Qs.At-Tahrim : 6)

Semoga bermanfaat buat kita dan keluarga kita masing-masing.

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ

Semoga kita bersama keluarga kita sampai akhirat dg *Husnul Khotimah*

.آمــــــــــين يا ربّ العالمــــــــين.

MARAH

*Kenapa orang berteriak ketika marah...?*

Seorang Ulama berjalan dg para muridnya, mereka melihat ada sebuah *Keluarga yg sedang Bertengkar, dan saling Berteriak....*
Ulama tersebut berpaling kepada muridnya dan bertanya :

*"Wahai muridku,..*
*Mengapa orang saling berteriak jika mereka sedang Marah..? "*

Salah satu Murid menjawab :

*" Karena kehilangan Kesabarannya,makanya mereka  Berteriak..."*

Si Ulama Bertanya kembali :

*" Tetapi.., mengapa harus Berteriak kepada orang yg tepat berada di sebelahnya..?*
*Bukankah pesan yg ia sampaikan, bisa ia ucapkan dgn cara Halus...? "*

Tanya sang Ulama menguji murid-muridnya.
Muridnya pun saling beradu jawaban, namun tidak satupun jawaban yg mereka sepakati.
Akhirnya sang Ulama berkata :

*"Apabila dua orang sedang Marah, maka hati mereka saling Menjauh....*
*Untuk dapat Menempuh jarak yg Jauh itu, mereka harus Berteriak agar Perkataannya dapat Terdengar....*
*Semakin Marah,...maka akan Semakin Keras Teriakannya.*
*Karena Jarak kedua hati semakin Jauh....  *

*Begitu juga sebaliknya , di saat kedua insan Saling Jatuh Cinta....*
*Mereka tidak Saling Berteriak antara yang satu dengan yang  lain....*
*Mereka Berbicara Lembut, karena Hati mereka Berdekatan....*
*Jarak antara kedua Hati sangat Dekat..."*
*Bila mereka semakin lagi saling mencintai, apa yang terjadi ?*
*Mereka tidak lagi Bicara* *Mereka hanya Berbisik dan saling mendekat dalam kasih-sayang*

*Pada akhirnya, mereka bahkan tidak perlu lagi Berbisik,*
*Mereka cukup hanya dengan Saling Memandang.....*
*Sedekat itulah dua insan yg Saling Mengasihi..."*

Sang Ulama memandangi Muridnya dan mengingatkan dengan lembut :

*" Jika terjadi Pertengkaran diantara kalian, jangan biarkan Hati kalian Menjauh...*
*Jangan Ucapkan Perkataan yg membuat Hati kian Menjauh....*
*Karena jika kita biarkan,.. suatu hari jaraknya tidak akan lagi bisa ditempuh...."*

Semoga kita dijauhkan sifat sifat amarah,
Dianugerahi kelapangan dada dan kesabaran..
Aamiin Yaa Robbal Alamiin..

Alasan Laki-laki tak boleh pake emas

*👑"TERJAWAB SUDAH MENGAPA RASULULLOH MELARANG PRIA MEMAKAI EMAS...."👑*

Tentu kita pernah mendengar kalau umat Islam melarang kaum pria memakai emas, mungkin diantara kita bertanya-tanya kenapa Islam melarang ya, padahal kan bukan barang haram.

Kalau haram tentu wanita juga dilarang memakai emas.

Ternyata bukan karena takut kaum wanita tersaingi tapi karena ada alasan lain yang baru bisa dibuktikan pada abad ke 20 ini.

*Berikut Hadistnya :*

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarang kaum laki-laki memakai cincin emas [Al-Bukhari dan Muslim] masing-masing dari Al-Bara' bin Azib Radhiyallahu 'anhu, bahwa ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai cincin emas ditangannya, maka beliau memintanya supaya mencopot cincinnya, kemudian melemparkannya ke tanah. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al Buchori dan Imam Muslim.

Ternyata diabad ke 20, para ahli fisika telah menyelidiki hal ini dan kemudian menyimpulkan bahwa atom pada emas mampu _"menembus"_ ke dalam kulit dan masuk ke dalam darah manusia, dan jika pria mengenakan emas dalam jumlah tertentu dan dalam jangka waktu yang lama, maka dampak yang ditimbulkan yaitu di dalam darah dan urine akan mengandung atom emas dalam kadar yang melebihi batas *(dikenal dengan sebutan migrasi emas)*.

Dan apabila ini terjadi dalam jangka waktu yang lama, maka akan mengakibatkan penyakit *Alzheimer*.

Sebab jika tidak di buang maka dalam jangka waktu yang lama atom emas dalam darah ini akan sampai ke otak dan memicu penyakit *Alzheimer*.

*_Alzheimer adalah suatu penyakit dimana orang tersebut kehilangan semua kemampuan mental dan fisik serta menyebabkan kembali seperti anak kecil._*

*Alzheimer bukan penuaan normal, tetapi merupakan penuaan paksaan atau terpaksa.*

Salah seorang yang terkena penyakit Alzheimer adalah Charles Bronson, Ralph Ealdo Emerson dan Sugar Ray Robinson.

Dan mengapa Islam membolehkan wanita untuk mengenakan emas ?

*_"Wanita tidak menderita masalah ini karena setiap bulan, partikel berbahaya tersebut ke luar dari tubuh wanita melalui menstruasi."_*

Itulah sebabnya Islam mengharamkan pria memakai emas dan membolehkan wanita memakai perhiasan emas.

Itulah alasan agama Islam melarang pria memakai emas, ternyata hal ini telah diketahui Rasulullah Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam 1400 tahun silam.
Padahal beliau tidak pernah belajar ilmu fisika dan tidak paham tentang fisika. Allahu Akbar.

*Subhanallah*

Semoga lewat tulisan ini kita khususnya sebagai seorang Muslim dapat mengambil hikmah dari larangan ini dan diteguhkan Iman kita agar tetap taat menjalankan Perintah dan menjauhi larangan dari Allah swt. yang telah disampaikan melalui Al-Qur'an Dan Al-hadist.

*CATATAN :*
Untuk wanita yang sudah *_Manopause_* sebaiknya kalau tidur malam perhiasan emas jangan dipakai.
Wslm ( MZ ).

Dilarangnya Riba

Tahap2 diharamkannya RIBA bagi umat Islam :

1. Surat Ar-Rum : 39 (Makkiyah)
Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak akan menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).

Pada ayat ini, Allah belum melarang. Hanya memperingatkan bahwa riba itu tidak ada pahalanya disisi Allah. Tidak ada keberkahan bagi para pelaku riba. Disamping itu, Allah juga menyampaikan bahwa sesungguhnya yg melipatgandakan itu adalah zakat.

2. Surat An-Nisa : 161
Dan disebabkan mereka memakan riba padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka telah memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir diantara itu siksa yang pedih.

Ayat ini diturunkan pada masa permulaan periode Madinah, sudah mengutuk dengan keras praktik riba, sebagaimana telah dilarang pula pada kitab-kitab terdahulu. Pada tahap kedua ini, Al-Quran mensejajarkan orang yang mengambil riba dengan mereka yang mengambil kekayaan orang lain secara tidak benar dan mengancam kedua pihak dengan siksa Allah yang amat pedih.

"mereka" yg dimaksud pada ayat ini adalah mengacu kepada orang2 Yahudi yg walaupun telah dilarang melakukan riba, tetap saja melakukan. Jadi dg turunnya ayat ini, walau belum menjadi dalil qath'i dilarangnya riba, namun Allah sdh menyamakan prilaku orang2 yg memakan riba sebagaimana prilaku orang2 Yahudi.

3. Surat Ali-Imran : 130-132
(130) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.
(131) dan periharalah dirimu dari api neraka yang disediakan untuk orang-orang kafir.
(132) dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.

Setelah bbrapa tahun di masa Madinah. Tutunlah ayat ini. Allah menyeru agar kaum muslimin menjauhi riba jika mereka menghendaki kesejahteraan yang diinginkan (dalam pengertian Islam yang sebenarnya). Selain itu secara tidak langsung Allah juga mengancam orang2 kafir dg siksa api neraka.
Ini adalah merupakan larangan Allah yg sangat tegas. Namun masih fokus pada riba2 yg bersifat keji. Yg secara langsung menganiaya orang2 yg dijerat olehnya. Jadi larangan keras ini baru bersifat sebagian. Hanya riba yg terus2an bertambah saja yg secara tegas dilarang. Belum berlaku menyeluruh kepada semua jenis riba.

4. Surat Al-Baqarah : 275-281
(275) Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
(276) Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.
(277) Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
(278) Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.
(279) Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.
(280) Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
(281) Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

Ayat ini merupakan kategori ayat2 yg diturunkan pada masa2 menjelang berakhirnya misi Rasulullah SAW sebagai utusan Allah. Ayat ini mengutuk keras mereka yang mengambil riba, riba secara menyeluruh, tidak perduli banyak atau sedikit.
Ayat ini juga menegaskan perbedaan yang jelas antara perniagaan dan riba, dan menuntut kaum muslimin agar menghapuskan seluruh utang piutang yang mengandung riba, menyerukan mereka agar mengambil pokoknya saja, dan mengikhlaskan kepada peminjam yang mengalami kesulitan.
Karena merupakan ayat terakhir yg diturunkan terkait riba, maka inilah syariat yg harus dipegang oleh seluruh umat Islam tanpa kecuali. Jika mereka tergolong orang2 yg takut kepada Allah, jika mereka ingin dikelompokkan sebagai orang2 yg beriman, jika mereka tidak ingin dijadikan penghuni neraka yg kekal didalamnya, jika mereka tidak ingin diperangi oleh Allah dan RasulNya.

#self_reminder
#muamalah_syariah
#no_riba_bukti_keimanan_kepada_Allah

Jadilah Ibu Seperti Mereka

Jadilah seperti *_Nuwair binti Malik_* yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya. Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun. Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar. Rasulullah tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih. Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain.

Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an. Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu. Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini: *_Zaid bin Tsabit._*

*_Jadilah ibu seperti mereka..._*

Jadilah seperti *_Shafiyyah binti Maimunah_* yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah. Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu. Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam Madzhab. Ia tidak lain adalah *_Imam Ahmad._*

*_Jadilah ibu seperti mereka..._*

Jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya. Seperti *_Ummu Habibah._* Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya. Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya: *_“Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya. Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, aamiin!”._*

Doa-doa itu tidak sia-sia. *_Muhammad bin Idris_*, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya: *_Imam Syafi’i _*.

*_Jadilah ibu seperti mereka..._*

Jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya *_Abdurrahman_*. Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu. “Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram…”, katanya memotivasi sang anak. “Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam masjidil haram…”, sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan. Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi imam masjidil Haram dan ulama dunia yang disegani. Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama  *_Abdurrahman As Sudais_*

*_Jadilah ibu seperti mereka..._*

Jadilah orang yang pertama kali yakin bahwa anakmu pasti sukses. Dan kau menanamkan keyakinan yang sama pada anakmu. Seperti ibunya Zewail yang sejak anaknya kecil telah menuliskan “Kamar DR. Zewail” di pintu kamar anak itu. Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri. Diikuti keterampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah *_Ahmad Zewail_* seorang doktor. Bukan hanya doktor, bahkan doktor terkemuka di dunia. Dialah doktor Muslim penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999.

Gara-Gara Bersin

SEDEKAT BERSIN
@salimafillah

Dalam sebuah perjalanan kereta api dari Jakarta ke Yogyakarta, seorang pemuda bersin di kursinya. Diapun bertahmid, “Alhamdulillah.”

Dari seberang tempat duduknya terdengar suara lirih namun tegas, “Yarhamukallah.”

Maka diapun menjawab, “Yahdikumullah, wa yushlihu baalakum”, lalu menoleh. Yang dia lihat adalah jilbab putih, yang wajahnya menghadap ke jendela.

Harap diketahui bahwa ini adalah tahun 1980-an. Jilbab adalah permata firdaus digersangnya dakwah, dan ucapan “Yarhamukallah” adalah ilmu yang masih jarang diamalkan. Keduanya terasa surgawi.

Maka bergegas, disobeknya kertas dari buku agenda dan diambilnya pena dari tasnya. Disodorkannya pada muslimah itu.

“Dik”, ujarnya, “Tolong tulis nama Bapak Anda dan alamat lengkapnya.”

Gadis itu terkejut. “Buat apa?”, tanyanya dengan wajah pias lagi khawatir.

“Saya ingin menyambung ukhuwah & thalabul ‘ilmi kepada beliau”, ujar sang pemuda. “Amat bersyukur jika bisa belajar dari beliau bagaimana mendidik putra-putri jadi Shalih dan Shalihah.”

Masih ragu, gadis itupun menuliskan sebuah nama & alamat. “Kalau ada denahnya lebih baik”, sergah si pemuda.

Beberapa hari kemudian, pemuda itu mendatangi alamat yang tertulis di kertas. Diketuk pintunya, dia ucapkan salam. Seorang bapak berwajah teduh dan bersahaja menyambutnya.

Setelah disilakan duduk, sang bapak bertanya, “Anak ini siapa dan ada perlu apa?”

Dia perkenalkan dirinya, lalu dia berkata, “Maksud saya kemari; pertama nawaituz ziyarah libina-il ukhuwah. Saya ingin, semoga dapat bersaudara dengan orang-orang Shalih sampai ke surga.”

“Yang kedua”, sambungnya, “Niat saya adalah thalabul ‘ilmi. Semoga saya dapat belajar pada Bapak bagaimana mendidik anak jadi Shalih dan Shalihah.”

“Yang ketiga”, di kalimat ini dia agak gemetar, “Jika memungkinkan bagi saya belajar langsung tentang itu di bawah bimbingan Bapak dengan menjadi bagian keluarga ini, saya sangat bersyukur. Maka dengan ini, saya beranikan diri melamar putri Bapak.”

“Lho Nak”, ujar si Bapak, “Putri saya yang mana yang mau Anak lamar? Anak perempuan saya jumlahnya ada 5 itu?”

“Bismillah. Saya serahkan pada Bapak, mana yang Bapak ridhakan untuk saya. Saya serahkan urusan ini kepada Allah dan kepada Bapak. Sebab saya yakin, husnuzhzhan saya, bapak sebagai orang Shalih, juga memiliki putri-putri yang semuanya Shalihah.”

“Lho ya jangan begitu. Lha anak saya yang sudah Sampeyan kenal yang mana?”

“Belum ada Pak”, pemuda itu nyengir.

Orangtua itu geleng-geleng kepala sambil tersenyum bijak. “Sebentar Nak”, kata si Bapak. “Lha Anda bisa sampai ke sini, tiba-tiba melamar anak saya itu ceritanya bagaimana?”

Pemuda itupun menceritakan kisah perjumpaannya dengan putri sang Bapak di Kereta. Lengkap dan gamblang. Sang bapak mengangguk-angguk.

“Ya kalau begitu”, ujar beliau, “Karena yang sudah Sampeyan nazhar (lihat) adalah anak saya yang itu; bagaimana kalau saya tanyakan padanya kesanggupannya; apakah anak juga ridha padanya?”

Pemuda itu mengangguk dengan tersipu malu. Singkat cerita, hari itu juga mereka diakadkan, dengan memanggil tetangga kanan-kiri tuk jadi saksi.

Maharnya?

Pena yang dipakai pemuda itu meminta alamat sang Bapak pada gadis di kereta yang akhirnya jadi istrinya, ditambah beberapa lembar rupiah yang ada di dompetnya.

Hingga kini mereka dikaruniai 6 putra-putri.  Satu putra telah wafat karena sakit setelah mengkhatamkan hafalan Qurannya. Lima yang lain, semua juga menjadi para pemikul Al Quran. Pasangan yang tak lagi muda itu, masih suka saling menggoda hingga kini. Itu tak lain, karena sang suami memang berpembawaan lucu.

“Salim”, ujarnya pada suatu hari, “Bibi’mu ini lho, cuma saya bersini saja jadi istri. Lha coba kalau saya batuk, jadi apa dia!”

Saya terkekeh. Dan lebih terbahak ketika bibi saya itu mencubit perut samping suaminya. “Kalau batuk”, ujar Hafizhah Qiraat Sab’ah ini, ingin bercanda tapi tak dapat menahan tawanya sendiri, “Mungkin beliau jadi sopir saya!”

Anda semua tak perlu jadi suka pura-pura bersin di angkutan umum setelah membaca cerita ini. Anda hanya perlu segera mendatangi Ayah seorang gadis, ketika tanda keshalihannya nyata. Selamat bersin. Eh, selamat berjuang.