Kado Istemewa Buat Ayah

By : ARY GINANDJAR
🌻 Kisah Nyata 🌻
 
Minggu lalu saya kembali Jum’atan di Graha CIMB Niaga Jalan Sudirman setelah lama sekali tidak sholat Jum’at di situ.

Sehabis meeting dengan salah satu calon investor di lantai 27, saya buru2 turun ke masjid karena takut terlambat.

Dan benar saja sampai di masjid adzan sudah berkumandang… Karena terlambat saya jadi tidak tau siapa nama Khotibnya saat itu.

Sambil mendengarkan khotbah saya melihat Sang Khotib dari layar lebar yg di pasang di luar ruangan utama masjid.

Khotibnya masih muda, tampan, berjenggot namun penampilannya bersih.

Dari wajahnya saya melihat aura kecerdasan, tutur katanya lembut namun tegas… dari penampilannya yg menarik tsb saya jadi penasaran, apa kira2 isi khotbahnya.

Ternyata betul dugaan saya!!!… isi ceramah dan cara menyampaikannya membuat jamaah larut dalam keharuan... banyak jama'ah yg mengucurkan air mata (termasuk saya) Subhanallah...

Dengan gaya yg menarik Sang Khotib menceritakan “true story”.
Seorang anak berumur 10 th namanya Umar, dia anak pengusaha sukses yg kaya raya.

Umar pun disekolahkan ayahnya di SD Internasional paling bergengsi di Jakarta. Tentu bisa ditebak bayarannya sangat mahal, tapi bagi pengusaha spt dia tentu bukan masalah...

Si ayah berfikir kalau anaknya harus mendapat bekal pendidikan terbaik di semua jenjang, agar anaknya kelak menjadi orang yg sukses mengikuti jejaknya.

Suatu hari isterinya memberi tahu kalau Sabtu depan si ayah diundang menghadiri acara “Father’s Day” di sekolah Umar... “Waduuuh saya sibuk ma, kamu aja deh yg datang...” begitu ucap si ayah kpd isterinya. Baginya acara begini sangat tidak penting dibanding urusan bisnis besarnya...

Tapi kali ini isterinya marah dan mengancam, sebab sudah kesekian kalinya si ayah nggak pernah mau datang ke acara anaknya...
Istrinya malu karena anaknya selalu didampingi ibunya, sementara anak2 yg lain selalu didampingi ayahnya...

Nah karena diancam isterinya, akhirnya si ayah mau hadir juga meskipun ogah2an...

Father’s day adalah acara yg dikemas khusus dimana anak2 saling unjuk kemampuan di depan ayah2nya...
Karena ayah Umar ogah2an maka dia memilih duduk paling belakang. Sementara para ayah yg lain (terutama yg muda2) berebut duduk di depan agar bisa menyemangati anak2nya yg akan tampil di panggung...

Satu persatu anak2 menampilkan bakat dan kebolehannya masing2, ada yg menyanyi, menari, membaca puisi, dll... Semua mendapat applause yg gegap gempita dari ayah2 mereka.

Tibalah giliran Umar dipanggil gurunya untuk menampilkan kebolehannya...

“Miss, bolehkah saya panggil pak Arief?" tanya Umar kpd gurunya. Pak Arief adalah guru mengaji untuk kegiatan ekstra kurikuler di sekolah itu…

”Oh boleh..” jawab gurunya dan pak Arif pun dipanggil ke panggung…

“Pak Arif, bolehkah bapak membuka Kitab Suci Al Qur’an Surat 78 (An-Naba’)” pinta Umar pada guru ngajinya.
”Tentu saja boleh nak..” jawab pak Arief.

“Tolong bapak perhatikan apakah bacaan saya ada yg salah...”

lalu Umar mulai melantunkan QS An-Naba’ tanpa membaca mushafnya (hafalan), dengan lantunan irama yg mirip seperti bacaan “Syaikh Sudais” (Imam Besar Masjidil Haram)…

Semua hadirin diam terpaku mendengarkan bacaan Umar yg mendayu2… termasuk ayah Umar yg duduk dibelakang…

”Kamu telah selesai membaca ayat 1 s/d 5 dengan sempurna, sekarang coba kamu baca ayat 9" lalu Umarpun membacanya…

”Stop, coba sekarang baca ayat 21, lalu ayat 33...” setelah usai Umar membacanya, lalu pak Arief berkata: “Sekarang kamu baca ayat 40 (ayat terakhir)”. Umarpun membaca ayat ke 40 tsb sampai selesai.

“Subhanallah… kamu hafal Surat An-Naba’ dengan sempurna nak…” kata pak Arif.

Lalu pak Arief bertanya kepada Umar ”Kenapa kamu memilih menghafal Al Qur’an dan membacakannya di acara ini nak, sementara teman2mu unjuk kebolehan yg lain?” begitu tanya pak Arief penasaran…

Begini pak guru… waktu saya malas mengaji dalam mengikuti pelajaran bapak, maka bapak menegur saya sambil menyampaikan sabda Rasulullah SAW :
”Siapa yang membaca, mempelajari dan menghafal Al Qur'an maka akan dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan jubah kemuliaan yang tidak pernah didapatkan di dunia...

Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (HR. Al-Hakim)

“Pak guru, saya ingin mempersembahkan Jubah Kemuliaan kepada ibu dan ayah saya di hadapan Allah di akhirat kelak... sebagai seorang anak yg berbakti kpd kedua orang tuanya...”

Semua orang terkesima dan tdk bisa membendung air matanya mendengar ucapan anak berumur 10 th tsb…

Di tengah suasana hening tsb tiba2 terdengar teriakan “Allahu Akbar..!!” dari seseorang yg lari dari belakang menuju ke panggung…
Ternyata dia ayah Umar yg dengan ter-gopoh2 langsung menubruk sang anak dan bersimpuh sambil memeluk kaki anaknya...

”Ampun nak, maafkan ayah yg selama ini tidak pernah memperhatikanmu... tdk pernah mendidikmu dengan ilmu agama, apalagi mengajarimu mengaji” ucap sang ayah sambil menangis di kaki anaknya…
Ayah menginginkan agar kamu sukses di dunia… tapi ternyata kamu malah memikirkan “kemuliaan ayah” di akhirat kelak… ayah malu nak" ujar sang ayah sambil menangis tersedu-sedu...

Subhanallah... Sampai disini, saya melihat di layar sang khotib mengusap air matanya yg mulai jatuh... Semua jama’ah pun terpana dan juga mulai meneteskan air mata, termasuk saya. Di antara jama’ah pun bahkan ada yg tidak bisa menyembunyikan suara isak tangisnya...

Saya sendiri menangis, karena merasa lalai dengan urusan akhirat dan lebih sibuk dengan urusan dunia... padahal saya tau kalau kehidupan akhirat jauh lebih baik dan kekal dari pada kehidupan dunia yg sangat singkat ini...

Firman Allah SWT dalam QS Al-An'am ayat 32 :
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”

Astagfirullahal ghofururrohim...  hamba mohon ampun kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang...

0 komentar:

Posting Komentar